Karya Tulis Ilmiah Bahasa Indonesia Tentang Puisi
Karya Tulis Ilmiah Bahasa Indonesia Tentang PUISI
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT Tuhan Semesta Alam karena
atas izin dan kehendak Nya jualah karya tulis ilmiah sederhana ini dapat saya
selesaikan tepat pada waktunya.
Penulisan dan pembuatan karya tulis ilmiah ini bertujuan untuk memenuhi
tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia. Adapun yang Saya bahas dalam makalah sederhana ini
mengenai “PUISI”.
Dalam
penulisan makalah ini saya menemui berbagai hambatan yang dikarenakan
terbatasnya Ilmu Pengetahuan saya mengenai hal yang berkenan dengan penulisan karya
tulis ilmiah ini. Oleh karena itu sudah sepatutnya saya berterima kasih kepada
para berbagai pihak yang telah membantu kami sehingga karya tulis ilmiah ini
dapat terselesaikan.
Saya
menyadari akan kemampuan saya yang masih kurang. Dalam karya tulis ilmiah ini
saya sudah berusaha semaksimal mungkin.Tapi saya yakin karya tulis ilmiah ini
masih banyak kekurangan disana-sini. Oleh karena itu saya mengharapkan saran
dan juga kritik membangun agar lebih maju di masa yang akan datang.
Penulis ,
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
Sastra pada dasarnya merupakan ciptaan, sebuah kreasi bukan semata
- mata sebuah imitasi (dalam Luxemburg, 1989: 5). Karya sastra sebagai bentuk
dan hasil sebuah pekerjaan kreatif, pada hakikatnya adalah suatu media yang mendayagunakan
bahasa untuk mengungkapkan tentang kehidupan manusia. Oleh sebab itu, sebuah
karya sastra, pada umumnya, berisi tentang permasalahan yang melingkupi
kehidupan manusia. Kemunculan sastra lahir dilatar belakangi adanya dorongan
dasar manusia untuk mengungkapkan eksistensi dirinya. (dalam Sarjidu, 2004: 2).
Biasanya kesusastraan dibagi menurut daerah geografis atau bahasa.
Jadi, yang termasuk dalam kategori Sastra adalah: Puisi, Novel cerita/cerpen
(tertulis/lisan), syair, pantun, sandiwara/drama, lukisan/kaligrafi.
Berdasarkan ulasan di atas, maka penulis membuat makalah ini guna
membantu para pembaca yang ingin menekuni dunia puisi. Selain tentang
pengertian dan unsur – unsur puisi, makalah ini juga memuat catatan tentang
ragam dan teknik membaca puisi serta dilengkapi juga dengan panduan untuk
membuat puisi agar menarik untuk dibaca.
1.2.
Tujuan Penulisan
Agar pembaca lebih mudah memahami karena dalam makalah ini dibuat semudah
mungkin untuk dipahami oleh pembaca.
1.3.
Rumusan Masalah
1. Sarana
apa yang digunakan oleh penyair untuk mengungkapkan hakikat puisi?
2. Menurut
zamannya, puisi dibedakan menjadi?
BAB II
PEMBAHASAN
2.1.
PENGERTIAN PUISI
Secara etimologis, kata puisi dalam bahasa Yunani
berasal dari poesis yang artinya berati penciptaan. Dalam bahasa Inggris,
padanan kata puisi ini adalah poetry yang erat dengan –poet dan -poem. Mengenai
kata poet, Coulter (dalam Tarigan, 1986:4) menjelaskan bahwa kata poet berasal
dari Yunani yang berarti membuat atau mencipta. Dalam bahasa Yunani sendiri,
kata poet berarti orang yang mencipta melalui imajinasinya, orang yang
hampir-hampir menyerupai dewa atau yang amat suka kepada dewa-dewa. Dia adalah
orang yang berpenglihatan tajam, orang suci, yang sekaligus merupakan filsuf,
negarawan, guru, orang yang dapat menebak kebenaran yang tersembunyi.
Shahnon Ahmad (dalam Pradopo, 1993:6) mengumpulkan
definisi puisi yang pada umumnya dikemukakan oleh para penyair romantik Inggris
sebagai berikut.
(1) Samuel
Taylor Coleridge mengemukakan puisi itu adalah kata-kata yang terindah dalam
susunan terindah. Penyair memilih kata-kata yang setepatnya dan disusun secara
sebaik-baiknya, misalnya seimbang, simetris, antara satu unsur dengan unsur
lain sangat erat berhubungannya, dan sebagainya.
(2)
Carlyle mengatakan bahwa puisi merupakan pemikiran yang bersifat musikal.
Penyair menciptakan puisi itu memikirkan bunyi-bunyi yang merdu seperti musik
dalam puisinya, kata-kata disusun begitu rupa hingga yang menonjol adalah
rangkaian bunyinya yang merdu seperti musik, yaitu dengan mempergunakan
orkestra bunyi.
(3)
Wordsworth mempunyai gagasan bahwa puisi adalah pernyataan perasaan yang
imajinatif, yaitu perasaan yang direkakan atau diangankan. Adapun Auden
mengemukakan bahwa puisi itu lebih merupakan pernyataan perasaan yang bercampur-baur.
(4)
Dunton berpendapat bahwa sebenarnya puisi itu merupakan pemikiran manusia
secara konkret dan artistik dalam bahasa emosional serta berirama. Misalnya,
dengan kiasan, dengan citra-citra, dan disusun secara artistik (misalnya
selaras, simetris, pemilihan kata-katanya tepat, dan sebagainya), dan bahasanya
penuh perasaan, serta berirama seperti musik (pergantian bunyi kata-katanya
berturu-turut secara teratur).
(5)
Shelley mengemukakan bahwa puisi adalah rekaman detik-detik yang paling indah
dalam hidup. Misalnya saja peristiwa-peristiwa yang sangat mengesankan dan
menimbulkan keharuan yang kuat seperti kebahagiaan, kegembiraan yang memuncak,
percintaan, bahkan kesedihan karena kematian orang yang sangat dicintai.
Semuanya merupakan detik-detik yang paling indah untuk direkam.
2.2.UNSUR-UNSUR
PUISI
Secara sederhana, batang tubuh puisi terbentuk dari beberapa
unsur, yaitu kata, larik , bait, bunyi, dan makna. Kelima unsur ini saling
mempengaruhi keutuhan sebuah puisi. Secara singkat bisa diuraikan sebagai
berikut.
Kata adalah unsur utama terbentuknya sebuah puisi. Pemilihan
kata (diksi) yang tepat sangat menentukan kesatuan dan keutuhan unsur-unsur
yang lain. Kata-kata yang dipilih diformulasi menjadi sebuah larik.
Larik (atau baris) mempunyai pengertian berbeda dengan
kalimat dalam prosa. Larik bisa berupa satu kata saja, bisa frase, bisa pula
seperti sebuah kalimat. Pada puisi lama, jumlah kata dalam sebuah larik
biasanya empat buat, tapi pada puisi baru tak ada batasan.
Bait merupakan kumpulan larik yang tersusun harmonis. Pada
bait inilah biasanya ada kesatuan makna. Pada puisi lama, jumlah larik dalam
sebuah bait biasanya empat buah, tetapi pada puisi baru tidak dibatasi.
Bunyi dibentuk oleh rima dan irama. Rima (persajakan) adalah
bunyi-bunyi yang ditimbulkan oleh huruf atau kata-kata dalam larik dan bait.
Sedangkan irama (ritme) adalah pergantian tinggi rendah, panjang pendek, dan
keras lembut ucapan bunyi.
Makna adalah unsur tujuan dari pemilihan kata, pembentukan
larik dan bait. Makna bisa menjadi isi dan pesan dari puisi tersebut. Melalui
makna inilah misi penulis puisi disampaikan.
Adapun secara lebih detail, unsur-unsur puisi bisa dibedakan
menjadi dua struktur, yaitu struktur batin dan struktur fisik.
Struktur
batin puisi, atau sering pula disebut sebagai hakikat puisi, meliputi hal-hal
sebagai berikut.
(1) Tema/makna (sense);
media puisi adalah bahasa. Tataran bahasa adalah hubungan tanda dengan makna,
maka puisi harus bermakna, baik makna tiap kata, baris, bait, maupun makna
keseluruhan.
(2) Rasa (feeling),
yaitu sikap penyair terhadap pokok permasalahan yang terdapat dalam puisinya.
Pengungkapan tema dan rasa erat kaitannya dengan latar belakang sosial dan
psikologi penyair, misalnya latar belakang pendidikan, agama, jenis kelamin,
kelas sosial, kedudukan dalam masyarakat, usia, pengalaman sosiologis dan
psikologis, dan pengetahuan. Kedalaman pengungkapan tema dan ketepatan dalam
menyikapi suatu masalah tidak bergantung pada kemampuan penyairmemilih
kata-kata, rima, gaya bahasa, dan bentuk puisi saja, tetapi lebih banyak
bergantung pada wawasan, pengetahuan, pengalaman, dan kepribadian yang
terbentuk oleh latar belakang sosiologis dan psikologisnya.
(3) Nada (tone), yaitu
sikap penyair terhadap pembacanya. Nada juga berhubungan dengan tema dan rasa.
Penyair dapat menyampaikan tema dengan nada menggurui, mendikte, bekerja sama
dengan pembaca untuk memecahkan masalah, menyerahkan masalah begitu saja kepada
pembaca, dengan nada sombong, menganggap bodoh dan rendah pembaca, dll.
(4) Amanat/tujuan/maksud
(itention); sadar maupun tidak, ada tujuan yang mendorong penyair menciptakan
puisi. Tujuan tersebut bisa dicari sebelum penyair menciptakan puisi,
maupun dapat ditemui dalam puisinya.
Sedangkan struktur fisik puisi, atau terkadang disebut pula
metode puisi, adalah sarana-sarana yang digunakan oleh penyair untuk
mengungkapkan hakikat puisi. Struktur fisik puisi meliputi hal-hal sebagai
berikut.
(1) Perwajahan puisi (tipografi), yaitu bentuk
puisi seperti halaman yang tidak dipenuhi kata-kata, tepi kanan-kiri,
pengaturan barisnya, hingga baris puisi yang tidak selalu dimulai dengan huruf
kapital dan diakhiri dengan tanda titik. Hal-hal tersebut sangat menentukan
pemaknaan terhadap puisi.
(2) Diksi, yaitu pemilihan kata-kata yang
dilakukan oleh penyair dalam puisinya. Karena puisi adalah bentuk karya sastra
yang sedikit kata-kata dapat mengungkapkan banyak hal, maka kata-katanya harus
dipilih secermat mungkin. Pemilihan kata-kata dalam puisi erat kaitannya dengan
makna, keselarasan bunyi, dan urutan kata.
(3) Imaji, yaitu kata atau susunan kata-kata yang
dapat mengungkapkan pengalaman indrawi, seperti penglihatan, pendengaran, dan
perasaan. Imaji dapat dibagi menjadi tiga, yaitu imaji suara (auditif), imaji
penglihatan (visual), dan imaji raba atau sentuh (imaji taktil). Imaji dapat
mengakibatkan pembaca seakan-akan melihat, mendengar, dan merasakan seperti apa
yang dialami penyair.
(4) Kata kongkret, yaitu kata yang dapat ditangkap
dengan indera yang memungkinkan munculnya imaji. Kata-kata ini berhubungan
dengan kiasan atau lambang. Misal kata kongkret “salju: melambangkan kebekuan
cinta, kehampaan hidup, dll, sedangkan kata kongkret “rawa-rawa” dapat
melambangkan tempat kotor, tempat hidup, bumi, kehidupan, dll.
(5) Bahasa figuratif, yaitu bahasa berkias yang
dapat menghidupkan/meningkatkan efek dan menimbulkan konotasi tertentu
(Soedjito, 1986:128). Bahasa figuratif menyebabkan puisi menjadi prismatis,
artinya memancarkan banyak makna atau kaya akan makna (Waluyo, 1987:83). Bahasa
figuratif disebut juga majas. Adapaun macam-amcam majas antara lain metafora,
simile, personifikasi, litotes, ironi, sinekdoke, eufemisme, repetisi, anafora,
pleonasme, antitesis, alusio, klimaks, antiklimaks, satire, pars pro toto, totem
pro parte, hingga paradoks.
(6) Versifikasi, yaitu menyangkut rima, ritme,
dan metrum. Rima adalah persamaan bunyi pada puisi, baik di awal, tengah, dan
akhir baris puisi. Rima mencakup (1) onomatope (tiruan terhadap bunyi, misal
/ng/ yang memberikan efek magis pada puisi Sutadji C.B.), (2) bentuk intern
pola bunyi (aliterasi, asonansi, persamaan akhir, persamaan awal, sajak
berselang, sajak berparuh, sajak penuh, repetisi bunyi [kata], dan sebagainya
[Waluyo, 187:92]), dan (3) pengulangan kata/ungkapan. Ritma adalah tinggi
rendah, panjang pendek, keras lemahnya bunyi. Ritma sangat menonjol dalam
pembacaan puisi.
2.3.RAGAM DAN JENIS
PUISI
1)
Berdasarkan
Zaman
Menurut zamannya, puisi dibedakan
atas puisi lama dan puisi baru.
PUISI LAMA
Ciri-ciri puisi lama:
- Merupakan puisi rakyat yang tak dikenal nama pengarangnya.
- Disampaikan lewat mulut ke mulut, jadi merupakan sastra lisan.
- Sangat terikat oleh aturan-aturan seperti jumlah baris tiap bait, jumlah suku kata maupun rima.
Yang termasuk puisi lama adalah:
- Mantra adalah ucapan-ucapan yang dianggap memiliki kekuatan gaib.
- Pantun adalah puisi yang bercirikan bersajak a-b-a-b, tiap bait 4 baris, tiap baris terdiri dari 8-12 suku kata, 2 baris awal sebagai sampiran, 2 baris berikutnya sebagai isi. Pembagian pantun menurut isinya terdiri dari pantun anak, muda-mudi, agama/nasihat, teka-teki, jenaka.
- Karmina adalah pantun kilat seperti pantun tetapi pendek.
- Seloka adalah pantun berkait.
- Gurindam adalah puisi yang berdirikan tiap bait 2 baris, bersajak a-a-a-a, berisi nasihat.
- Syair adalah puisi yang bersumber dari Arab dengan ciri tiap bait 4 baris, bersajak a-a-a-a, berisi nasihat atau cerita.
- Talibun adalah pantun genap yang tiap bait terdiri dari 6, 8, ataupun 10 baris.
PUISI BARU
Puisi baru bentuknya lebih bebas
daripada puisi lama, baik dalam segi jumlah baris, suku kata, maupun rima.
Menurut isinya, puisi baru dibedakan atas:
- Balada adalah puisi berisi kisah/cerita.
- Himne adalah puisi pujaan untuk Tuhan, tanah air, atau pahlawan.
- Ode adalah puisi sanjungan untuk orang yang berjasa.
- Epigram adalah puisi yang berisi tuntunan/ajaran hidup.
- Romance adalah puisi yang berisi luapan perasaan cinta kasih.
- Elegi adalah puisi yang berisi ratap tangis/kesedihan.
- Satire adalah puisi yang berisi sindiran/kritik.
2)
Berdasarkan
Sudut Pandang Penulis
Ada
bermacam-macam jenis puisi yang ditulis para penyair Indonesia. Karya sastra
tidak bersifat otonom. Dalam memahami makna karya sastra, kita mengacu pada
beberapa hal yang erat hubungannya dengan puisi tersebut. Dalam pemahaman
puisi, hal yang dipandang erat hubungannya adalah jenis puisi itu sendiri dan
sudut pandang penyair. Sebenarnya ada banyak sekali macam-macam puisi, dan
bagaimana penyair dalam menyampaikan inspirasinya, serta bagaimana menafsirkan
makna puisi dengan mudah. Sehingga mudah mengklasifikasikan, termasuk jenis puisi
apakah yang kita ciptakan.
Ada
juga parable atau alegori. Sedangkan istilah ode, himne, puisi kamar, dan puisi
auditorium juga sering kita jumpai.
1.
Puisi Naratif,
Lirik, dan Deskriptif
Klasifikasi
puisi ini berdasarkan cara penyair mengungkapkan isi atau gagasan yang hendak
disampaikan.
a.
Puisi Narataif
Puisi
naratif mengungkapkan cerita atau penjelasan penyair. Ada puisi naratif yang
sederhana, ada yang sugestif, dan ada yang kompleks. Puisi-puisi naratif,
misalnya: epik, romansa, balada, dan syair.
b.
Puisi Lirik
Dalam
puisi lirik penyair mengungkapkan aku lirik atau gagasan pribadinya. Ia tidak
bercerita. Jenis puisi lirik misalnya: elegi, ode, dan serenada.
Elegi
adalah Puisi yang mengungkapkan perasaan duka. Misalnya "Elegi
Jakarta" karya Asrul Sani yang mengungkapkan perasaan duka penyair di kota
Jakarta.
Serenada
adalah Sajak percintaan yang bisa dinyanyikan. Kata serenada berarti nyanyian
yang tepat dinyanyikan pada waktu senja. Rendra banyak menciptakan serenada
dalam 'Empat Kumpulan Sajak'. Misalnya Serenada hitam, Serenada Biru, serenade
Merah Jambu, serenade ungu, Serenada Kelabu, dan sebagainya. Warna-warna
dibelakang serenada itu melambangkan sifat nyanyian cinta itu, ada yang
bahagia, sedih, kecewa, dan seterusnya.
Ode
adalah Puisi yang berisi pujaan terhadap seseorang, sesuatu hal, sesuatu
keadaan. Yang banyak ditulis adalah pemujaan terhadap tokoh-tokoh yang
dikagumi. “Teratai” Sanusi Pane, “Diponegoro” Chairil Anwar, dan “Ode Buat
Proklamator” Leon Agusta merupakan contoh ode yang bagus.
c.
Puisi
Deskriptif.
Didepan
telah dinyatakan bahwa dalam puisi deskriptif, penyair bertindak sebagai
pemberi kesan terhadap keadaan / peristiwa, benda, atau suasana dipandang
menarik perhatian penyair. Jenis puisi yang dapat diklasifikasikan dalam puisi
deskriptif, misalnya puisi satire, kritik sosial, dan puisi-puisi
impresionitik.
2.
Puisi Kamar dan
Puisi Auditorium
Istilah
puisi kamar dan puisi auditorium juga kita jumpai dalam buku kumpulan puisi
‘Hukla’ karya Leon Agusta. Puisi-puisi auditorium disebut juga puisi Hukla
(puisi yang mementingkan suara atau serangakaian suara).
Puisi Kamar ialah Puisi yang cocok dibaca sendirian atau dengan satu atau dua pendengar saja di dalam kamar.
Puisi Kamar ialah Puisi yang cocok dibaca sendirian atau dengan satu atau dua pendengar saja di dalam kamar.
3.
Puisi Fisikal,
Platonik, dan Metafisikal
Pembagian
puisi oleh David Daiches ini berdasarkan sifat dari isi yang dikemukakan dalam
puisi itu.
Puisi
Fisikal adalah Puisi bersifat realistis, artinya menggambarkan kenyataan apa
adanya. Yang dilukiskan adalah kenyataan dan bukan gagasan. Hal-hal yang
didengar, dilihat, atau dirasakan merupakan obyek ciptaannya. Puisi-puisi
naratif, balada, impresionistis, juga puisi dramatis biasanya merupakan puisi
fisikal.
Puisi
Platonik adalah Puisi yang sepenuhnya berisi hal-hal yang bersifat spiritual
atau kejiwaan. Dapat dibandingkan dengan istilah 'Cinta Platonis' yang berarti
cinta tanpa nafsu jasmaniah. Puisi-puisi ide atau cita-cita, religius, ungkapan
cinta luhur seorang kekasih atau orang tua kepada anaknya dapat dimasukkan ke
dalam klasifikasi puisi platonik.
Puisi
Metafisikal adalah Puisi yang bersifat filosofis dan mengajak pembaca
merenungkan kehidupan dan merenungkan Tuhan. Puisi religius disatu pihak dapat
dinyatakan puisi platonic (menggambarkan ide atau gagasan penyair), dilain
pihak dapat disebut sebagai puisi metafisik (menagjak pembaca merenungkan
hidup, kehidupan, dan Tuhan), karya-karya mistik Hamzah Fansuri seperti Syair
Dagang, Syair Perahu, dan Syair Si Burung Pingai dapat dipandang sebagai puisi
metafisikal. Kasidah-kasidah “Al-Barzanji” karya Ja'far Al-Barzanji dan tasawuf
karya Jalaludin Rumi dapat diklasifikasikan sebagai puisi metafisikal.
4.
Puisi Subyektif
dan Puisi Obyektif
Puisi
Subyektif disebut juga Puisi Personal, yakni puisi yang mengungkapkan gagasan,
pikiran, perasaan, dan suasana dalam diri penyair sendiri. Puisi-puisi yang
ditulis kaum ekspresionis dapat diklasifikasikan sebagai puisi subyektif,
karena mengungkapkan keadaan jiwa penyair sendiri. Demikian pula puisi lirik
dimana aku lirik bicara kepada pembaca.
Puisi
Obyektif berarti Puisi yang mengungkapkan hal-hal diluar diri penyair itu
sendiri. Puisi obyektif disebut juga puisi impersonal.
5.
Puisi Konkret
Puisi
konkret sangat terkenal dalam dunia perpuisian Indonesia sejak tahun 1770-an.
X.J.Kennedy memberikan nama jenis puisi tertentu dengan nama puisi konkret, yakni
puisi yang bersifat visual, yang dapat dihayati keindahan bentuk dari sudut
pandang (poem for the eye). Kita mengenal adanya bentuk grafis dari puisi,
kaligrafi, ideogramatik, atau puisi-puisi Sutardji Calzoum Bachri yang
menunjukkan pengimajian lewat bentuk grafis. Dalam puisi konkret ini, tanda
baca dan huruf-huruf sangat potensial membentuk gambar. Gambar wujud fisik yang
'kasat mata' lebih dipentingkan dari pada makna yang ingin disampaikan.
6.
Puisi Diafan,
Gelap, dan Prismatis.
Puisi
Diafan atau puisi polos adalah puisi yang kurang sekali menggunakan
pengimajian, kata konkret dan bahasa figurative, sehingga puisinya mirip dengan
bahasa sehari-hari. Puisi yang demikian akan sangat muda dihayati maknanya.
Puisi-puisi anak-anak atau puisi karya mereka yang baru belajar menulis puisi
dapat diklasifikasikan puisi diafan. Mereka belum mampu mengharmoniskan bentuk
fisik untuk mengungkapkan makna.
7.
Puisi Pernasian,
dan Puisi Inspirati.
Pernasian
adalah sekelompok penyair Prancis pada pertengahan akhir abad 19 yang
menunjukkan sifat puisi-puisi yang mengandung nilai keilmuan. Puisi pernasian
diciptakan dengan pertimbangan ilmu atau pengetahuan dan bukan didasari oleh
inspirasi karena adanya mood dalam jiwa penyair. Puisi-puisi yang ditulis oleh
ilmuwan yang kebetulan mampu menulis puisi, kebanyakan adalah puisi pernasian.
Puisi-puisi Rendra dalam “Potret Pembangunan” dalam puisi yang banyak berlatar
belakang teori ekonomi dan sosiologi dapat diklasifikasikan sebagai puisi
pernasian. Demikian juga puisi-puisi Dr. Ir. Jujun S. Suriasumantri yang sarat
dengan pertimbangan keilmuan.
Puisi
Inspiratif diciptakan berdasarkan mood atau passion. Penyair benar-benar masuk
ke dalam suasana yang hendak dilukiskan. Suasana batin penyair benar-benar
terlibat kedalam puisi itu. Dengan mood, puisi yang diciptakan akan memiliki
tenaga gaib, sekali baca habis. Pembaca memerlukan waktu cukup untuk
menafsirkan puisi prosaic seperti karya penyair-penyair tahun 1970-an.
8.
Stansa
Jenis
puisi yang bernama stanza kita jumpai dalam Empat Kumpulan Sajak karya Rendra.
Stanza artinya puisi yang tediri atas 8 baris. Stanza berbeda dengan oktaf
karena oktaf dapat terdiri atas 16 atau 24 baris. Aturan pembarisan dalam oktaf
adalah 8 baris untuk tiap bait, sedangkan dalam setanza seluruh puisi itu hanya
terdiri atas 8 baris.
9.
Puisi
Demonstrasi dan Pamflet
Puisi
demonstrasi menyaran pada puisi-puisi Taufiq Ismail dan mereka yang oleh Jassin
disebut angkatan 66. puisi ini melukiskan dan merupakan hasil refleksi
demonstrasi para maha siswa dan pelajar sekitar tahun 1966. Menurut subagio
Sastrowardoyo, puisi-puisi demonstrasi 1966 bersifat ke-kita-an, artinya
melukiskan perasaan kelompok, bukan perasaan individu. Puisi-puisi mereka
adalah endapan dari pengalaman fisik, mental, dan emosional selama penyair terlibat
dalam demonstrasi 1966. gaya paradoks dan ironi banyak kita jumpai.
10. Alegori
Puisi
sering-sering mengungkapakan cerita yang isinya dimaksudkan untuk memberikan
nasihat tentang budi pekerti dan agama. Jenis alegori yang terkenal adalah
parable yang juga disebut dongeng perumpamaan. Dalam kitab suci banyak kita
jumpai dongeng-dongeng perumpamaan yang maknanya dapat kita cari dibalik yang
tersurat. Puisi "Teratai" karya Sanusi Pane boleh dikatakn sebagai
puisi alegori, karena kisah bunga teratai itu digunakan untuk mengisahkan tokoh
pendidikan.
2.4.Teknik
Pembuatan Puisi
Sampai
saat ini, barangkali berjuta puisi telah dituliskan, baik yang dipublikasikan
di buku, di koran, di internet, maupun yang masih tetap mengendap di tangan
penulis atau bahkan sudah hilang, entah ke mana rimbanya.
Berbagai
ragam tema bahasan juga pernah diungkapkan lewat puisi, mulai dari kehidupan
sehari-hari, budaya, sains, politik dan tentu saja tentang cinta yang banyak
sekali ditemukan, khususnya puisi yang dituliskan oleh kaum remaja.
Tentu,
puisi-puisi ini dilahirkan dari berbagai macam proses kelahiran. Sebenarnya,
jika dicermati, menurut pengalaman, puisi itu merupakan ungkapan kata bermakna
yang dihasilkan dari berbagai macam proses kelahiran masing-masing.
2.5.Teknik
Pembacaan Puisi
Bagaimana
kita membaca puisi dengan baik dan sampai sasaran/tujuan makna dari puisi yang
kita baca sesuai maksud Sang Penyair? Ada beberapa tahapan yang harus di
perhatikan oleh sang pembaca puisi, antara lain:
Interpretasi (penafsiran/pemahaman makna puisi)
Dalam
proses ini diperlukan ketajaman visi dan emosi dalam menafsirkan dan membedah
isi puisi. Memahami isi puisi adalah upaya awal yang harus dilakukan oleh
pembaca puisi, untuk mengungkap makna yang tersimpan dan tersirat dari untaian
kata yang tersurat.
1.
Vocal Artikulasi Pengucapan kata yang utuh dan jelas, bahkan di setiap
hurufnya.
2. Diksi Pengucapan kata demi kata
dengan tekanan yang bervariasi dan rasa.
3. Tempo Cepat lambatnya pengucapan
(suara). Kita harus pandai mengatur dan menyesuaikan dengan kekuatan nafas. Di
mana harus ada jeda, di mana kita harus menyambung atau mencuri nafas.
4. Dinamika Lemah kerasnya suara
(setidaknya harus sampai pada penonton, terutama pada saat lomba membaca
puisi). Kita ciptakan suatu dinamika yang prima dengan mengatur rima dan irama,
naik turunnya volume dan keras lembutnya diksi, dan yang penting menjaga
harmoni di saat naik turunnya nada suara.
5. Modulasi Mengubah (perubahan) suara
dalam membaca puisi.
6. Intonasi Tekanan dan laju kalimat.
7. Jeda Pemenggalan sebuah kalimat
dalam puisi.
8. Pernafasan. Biasanya, dalam membaca
puisi yang digunakan adalah pernafasan perut.
9.
Penampilan Salah satu factor
keberhasilan seseorang membaca puisi adalah kepribadian atau performance diatas
pentas. Usahakan terkesan tenang, tak gelisah, tak gugup, berwibawa dan
meyakinkan (tidak demam panggung).
10. Gerak Gerakan seseorang membaca
puisi harus dapat mendukung isi dari puisi yang dibaca. Gerak tubuh atau tangan
jangan sampai klise.
11. Komunikasi Pada saat kita membaca puisi
harus bias memberikan sentuhan, bahkan menggetarkan perasaan dan jiwa penonton.
12. Ekspresi Tampakkan hasil pemahaman,
penghayatan dan segala aspek di atas dengan ekspresi yang pas dan wajar.
13. Konsentrasi Pemusatan pikiran terhadap
isi puisi yang akan kita baca.
BAB III
PENUTUP
3.1.Kesimpulan.
-
Secara etimologis, kata
puisi dalam bahasa Yunani berasal dari poesis yang artinya berati penciptaan.
Dalam bahasa Inggris, padanan kata puisi ini adalah poetry yang erat dengan
–poet dan -poem. Mengenai kata poet, Coulter (dalam Tarigan, 1986:4) menjelaskan
bahwa kata poet berasal dari Yunani yang berarti membuat atau mencipta.
-
Membaca puisi bukan sekedar menyampaikan arus pemikiran penyair, tapi
kita juga harus menghadirkan jiwa sang penyair. Kita harus menyelami dan
memahami proses kreatif sang penyair, bagaimana ia dapat melahirkan karya
puisi.
3.2 Saran
·
Hendaknya pihak sekolah memberikan bimbingan
(kurikulum) kepada siswa yang memiliki potensial di bidang fisika instrument.
·
Hendaknya pihak sekolah mengadakan lomba karya
tulis ilmih, agar para penuis puisi akan lebih kompetitif.
DAFTAR PUSTAKA

Komentar
Posting Komentar